Monday, 22 April 2013

PEMBIAKAN TANAMAN DENGAN CARA MENYAMBUNG


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LABORATORIUM TEKNOLOGI BENIH

LAPORANPRAKTIKUM

NAMA                                      : JENI WIDYA R
NIM                                           :121510501018
GOL/KELOMPOK                 : KAMIS/I
ANGGOTA                              : 1. YENI MAYANG SARI   (121510501011)
                                                     2. IMRON ROSYIDI            (121510501022)
                                                     3. IRA SULISTIANA           (121510501024)
                                                     4. NOVITA F.M                    (121510501001)
                                                     5. MUHAMAD NUNALIF  (121510501178)
                                                     6. ADY SHOLIHIN               (121510501013)
                                                     7. JENI WIDYA R                (121510501018)
                                                     8. RIZKY AMRILLAH        (121510501015)
JUDUL ACARA                     : PEMBIAKAN VEGETATIF DENGAN CARA MENYAMBUNG (GRAFTING)
TANGGAL PRAKTIKUM   : 7 MARET 2013
TANGGAL PENYERAHAN         : 4 APRIL  2013
ASISTEN                                  : 1. AKHMAD TAUFIQUL HAFIZH
                                                     2. LARAS SEKAR ARUM
                                                     3. MANUEL EDISON ANO
                                                     4. RAAF LUQMAN SYAH
                                                     5. DIYAH AYU SETYORINI
                                                     6. NOVITA FRIDA SAFATA
                                                     7. OKTAVIA RIZKI SETIYA R
                                                     8. MOCH GUFRON ARIF R
                                                     9. ALMANSYAH NUR SINATRYA

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangbiakan secara generatif merupakan proses perkembangbiakan yang melibatkan peleburan gamet jantan dan gamet betina. Proses peleburan dua gamet ini biasa kita sebut pembuahan. Perkembangbiakan secara generatif terjadi pada tumbuhan berbiji, baik gimnossperma (berbiji terbuka) maupun angiossperma (berbiji tertutup). Sedangkan perkembangbiakan secara vegetatif merupakan cara perkembangbiakan tanpa melalui proses peleburan dua gamet, artinya satu induk tumbuhan dapat memperbanyak diri menghasilkan keturunan yang memiliki sifat identik dengan induknya. Perkembangbiakan secara vegetatif dapat terjadi secara alami atau buatan (artifisial).
Perkembangbiakan secara vegetatif merupakan cara perkembangbiakan yang dilakukan tumbuhan tanpa melibatkan bantuan manusia. Contoh perkembangbiakan secara vegetatif alami antara lain : Rhizoma, Stolon, Umbi lapis, Tunas, Umbi batang, Spora. Sedangkan perkembangbiakan secara vegetatif buatan merupakan cara perkembangbiakan tumbuhan yang sengaja dilakukan oleh manusia. Manusia sengaja memanfaatkan kemampuan maristematis tumbuhan untuk menghasilkan lebih banyak keturunan. Cara perkembangbiakan ini tergolong cara yang sangat efektif karena dilakukan dalam waktu yang relative lebih singkat dibandingkan dengan perkembang biakan secara vegetatif alami. Contoh perkembangbiakan secara vegetatif buatan antara lain : stek, cangkok, sambung, tempel (okulasi), merunduk, kultur jaringan.
Pembiakan dengan cara vegetatif adalah pembiakan yang menggunakan bagian-bagian pada tanaman tersebut seperti batang, daun, akar, ranting, umbi, pucuk untuk menghasilkan individu baru. Pembiakan dengan cara ini lebih banyak digunakan karena memiliki keunggulan yaitu, produk yang dihasilkan memiliki sifat yang mirip dengan induknya. Prinsip dari pembiakan vegetatif ini adalah merangsang tunas adventif yang ada pada bagian tersebut sehingga dapat tumbuh dengan sempurna, yaitu memiliki akar, daun, dan batang sekaligus.
Grafting atau penyambungan merupakan metode perbanyakan vegetatif buatan.Grafting/penyambungan adalah seni menyambungkan 2 jaringan tanaman hidup sedemikian rupa sehingga keduanya bergabung dan tumbuh serta berkembang sebagai satu tanaman gabungan. Teknik apapun yang memenuhi kriteria ini dapat digolongkan sebagai metode grafting. Sedangkan budding adalah salah satu bentuk dari grafting, dengan ukuran batang atas tereduksi menjadi hanya satu mata tunas. Tanaman bagian atas disebut entris atau batang atas (scion), sedangkan tanaman batang bawah disebut understam atau batang bawah (rootstock). Batang atas berupa potongan pucuk tanaman yang terdiri atas beberapa tunas dorman yang akan berkembang menjadi tajuk, sedang batang bawah akan berkembang menjadi sistem perakaran .
Alasan-alasan dilakukannya penyambungan antara lain untuk menghasikan sifat-sifat klon yang tidak dapat dilakukan dengan cara stek atau mencangkok, untuk memperbaiki jenis-jenis tanaman, untuk mempercepat berbuahnya dari bibit yang diseleksi, untuk memperbaiki bagian-bagian pohon yang rusak. Dan alasan lain untuk melakukan grafting adalah :memperoleh keuntungan dari batang bawah tertentu, seperti perakaran kuat, toleran terhadap lingkungan tertentu, mengubah kultivar dari tanaman yang telah berproduksi, yang disebut top working, mempercepat kematangan reproduktif dan produksi buah lebih awal,mempercepat pertumbuhan tanaman dan mengurangi waktu produksi, mendapatkan bentuk pertumbuhan tanaman khusus dan memperbaiki kerusakan pada tanaman. Aplikasi grafting juga dapat dilakukan untuk membuat satu tanaman dengan jenis yang berbeda-beda, untuk mengatasi masalah polinasi, dalam kasus self-incompability atau tanaman berumah dua .
Pada praktikum ini kita akan membahas perkembangbiakan secara vegetatif buatan yaitu sambung atau enten pada tumbuhan Sansiveira sp. ,seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya bahwa perkembangbiakan secara vegetatif buatan merupakan cara perkembangbiakan tumbuhan yang sengaja dilakukan oleh manusia. Tujuan utama melakukan teknik sambung ini adalah untuk menggabungkan dua sifat unggul dari individu yang berbeda. Jadi selain bisa menghasilkan keturunan tumbuhan tersebut juga bisa menghasilkan variestas tanaman yang baru dengan menggabungkan dua sifat unggul tanaman yang masih ada dalam satu genus atau keluarga. Teknik sambung pada makalah kali ini akan kita terapkan pada tumbuhan Sansiveira sp.

1.2 Tujuan
1.    Untuk mengetahui dan mempelajari cara-cara penyambungan
2.    Untuk mengatahui pengaruh perlakuan pengurangan daun terhadap keberhasilan penyambungan tanaman

  
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Perbanyakan tanaman dengan cara menempel atau sambung dilakukan dengan cara menempel atau menyambung pada bagian batang tanaman yang berakar (Sudarmono, 2009). Pembiakan vegetatif dengan grafting memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan pembiakan generatif. Salah satu keuntungan dari graftingialah banyak digunakan untuk produksi bibit yang akan ditanam di kebun benih dan bermanfaat untuk penyelamatan kandungan genetik tanaman (Sukendro, dkk, 2010)
Beberapa  faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan  dalam memproduksi bibit dengan  metode  graftingyaitu  (1)  faktor tanaman (genetik, kondisi tumbuh, panjang entris),  (2)  faktor  lingkungan (ketajaman/kesterilan alat,  kondisi  cuaca, waktu pelaksanaan  grafting  (pagi, siang, sore hari), dan  (3) faktor keterampilan  orang yang melakukan  grafting Tirtawinata, 2003;Tambing, 2004 (dalam Tambing dan Hadid). Dalam metode grafting, terdiri atas dua bagian yaitu bagian bawah(rootstock) dan bagian atas(scion). Tumbuhan yang digunakan sebagai batang bawah biasanya dipilih yang mempumyai sifat perakaran yang baik, dan bagian batang atas dipilih yang mempunyai sifat vegetative yang baik pula (Hidayat dan Sri, 2009).
Usaha memperbaiki kualitas tanaman vegetative dengan cara grafting atau budding perlu memperhatikan pemilihan bahan tanaman yang akan digunakan sebagai stock maupun scion (Mangoendidjojo, W. 2003).  Pengertian scion adalah batang atas, sedangkan stock adalah batang bawah. Adapun kelebihan bibit dari hasil perbanyakan vegetatif dibanding cara generatif (biji) adalah : (1) diperoleh individu baru dengan sifat unggul lebih banyak, misalnya batang bawah (rootstock) yang unggul perakarannya disambung dengan batang atas (scion) yang unggul produksi buahnya, (2) umur berbuah lebih cepat, (3) aroma dan cita rasa buah tidak menyimpang dari sifat unggul induknya (Tambing, dkk, 2008).
  

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
           Kegiatan praktikum pembiakan tanaman pada acara 6, yaitu tentang pembiakan vegetatif dengan cara penyambungan (grafting) yang dilaksanakan pada hari Kamis,7 Maret 2012, di laboratorium teknologi benih, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.  

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Plastik
2. Pisau tajam (cutter)
3. Timba

3.2.2 Bahan
1. Tanaman puring

3.3 Cara Kerja
1.    Menyiapkan bahan sebagai batang atas dan batang bawah dan menyiapkan alat
2.    Memilih batang atas sebesar batang bawah dan membuat perlakuan seperti berikut :
a.       Tanpa daun
b.      Daun dikupir
c.       Daun sisa 2
3.    Memotong batang bawah 3-5 cm di atas leher bonggol, kemudian membuat sayatan celah berbentuk huruf V ke arah bawah sepanjang 1-1,5 cm
4.    Memotong dan membuat sayatan batang atas berbentuk lancip sepanjang 1-1,5 cm
5.    Menyisipkan batang atas ke dalam celah batang bawah
6.    Membalut sambungan dengan tali rafia/plastik mulai dari bawah ke atas
7.    Mengerudungi  bidang sammbungan dengan kantong plastik transparan dan meletakkan di tempat teduh sekitas 3 minggu
8.    Sambungan yang tumbuh akan muncul daun/tunas baru


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Perlakuan
Ulangan
Keberhasilan
Perubahan
Batang Bawah
Batang Atas
Tanpa Daun
1 (1)
ΓΌ
Normal
Normal
2 (1)
-
Normal
Kering
3 (2)
-
Kering
Kering
4 (2)
-
Kering
Kering
Daun Dikupir
1 (3)
-
Normal
Kering
2 (3)
-
Normal
Kering
3 (4)
-
Normal
Kering
4 (4)
-
Normal
Kering
Daun Sisa 2
1 (5)
-
Normal
Kering
2 (5)
-
Normal
Kering
3 (6)
-
Normal
Kering
4 (6)
-
Normal
Kering

4.2 Pembahasan
Perbanyakan tanaman bisa kita golongkan menjadi dua bagian, yaitu perbanyakan secara vegetatif dan generatif. Sambung pucuk merupakan perbanyakan tanaman gabungan antara perbanyakan secara generatif (dari persemaian biji) dengan salah satu bagian vegetatif (cabang/ranting) yang berasal dari tanaman lain yang disatukan. Tanaman yang telah disambungkan masing-masing mempunyai keunggulan dari segi kelebatan buah, ukuran besar dan rasa/khasiat serta ketahanan terhadap hama dan penyakit.
Kegiatan sambung pucuk kerap digunakan dengan menggabungkan batang bawah dan batang atas. Batang bawah diharapkan menjadi batang yang tahan terhadap patogen tanah dan kokoh sedangkan batang atas merupakan bagian yang memilki karakter produksi yang diinginkan.Batang bawah biasanya dipakai dari tanaman yang tumbuh dari biji sehingga perakarannya lebih kuat. Akan tetapi, batang bawah yang berasal dari biji memiliki karakter yang berbeda (segregasi). Teknologi perbanyakan mengusahakan batang bawah juga diperoleh seragam dari hasil stek.
Perpaduan dari bagian tanaman yang disatukan akan berkembang membentuk tanaman jenis baru, dengan kelebihan yang dimilikinya antara lain : keunggulan dari segi perakaran,  masa berbuah lebih cepat, ukuran tanaman  yang lebih pendek,memiliki sifat genetis yang berasal dari induknya misalnya ukuran buah, daging yang tebal dan rasa manis sertaterhadap penyakit. Bahan yang dibutuhkan dalam proses penyambungan ini adalah bagian tanaman yang akan di sambung atau disebut batang atas (entres) bisa tunas pucuk atau tunas samping. Bagian bawah yang menerima sambungan di sebut Batang Bawah(understock). Cara mendapatkan batang bawang dengan penyemaian biji tanaman lokal yg memilki perakaran yg baik dan tahan terhadap serangan busuk akar. Di bawah ini adalah metode pelaksanaan kegiatan grafting diantaranya sebagai berikut:
a) Potong scion secara rapi, dengan mata tunas dua atau tiga mata tunas kemudian sayat  miring pangkal scion, sedangkan sebelah lagi cukup dengan mengelupas kulitnya sehingga tinggal kambiumnya saja, (jika menggunakan teknik Veneer dan teknik rind) sayat kedua sisiscion berbentuk huruf V, (bila menggunakan teknik grafting top cleft graf) dan usahakan dalam penyayatan jangan sampai berulang-ulang.
b) Potong rootstock pada tempat yang tepat sesuai dengan sambungan yang diinginkan
c)  Sambungkan scion (batang atas) pada rootstock (batang bawah) dengan memperhatikan apakah kambium scion dan kambium rootstock telah saling berlekatan, bila batang bawah tidak sama besar dengan batang atas, maka salah satu sisinya  diusahakan berimpit (satu- garis) supaya kambium bisa bersatu, walaupun hanya satu sisi. (grafting top cleft).
d)         Ikat sambungan dengan pita grafting plastik, para film atau tali rafia, sehingga kambiumnya dapat melekat erat.
e) Setelah itu sambungan dibungkus kantong plastik transparan (bening) untuk menjaga kestabilan suhu.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan yaitu a)scion yang dijadikan bahan sambungan tersebut tidak cacat dan masih dalam keadaan segar, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda dan berbatang bulat, b)grafting tidak terkena secara langsung terik matahari maupun air hujan, c)bagian sambungan kambium harus menempel seerat mungkin, paling tidak salah satu dari bagiannya, d)pisau dan gunting  yang digunakan untuk kegiatan sambungan ini yang tajam dan tidak berkarat agar sambungan tidak terinfeksi oleh penyakit, e)dikerjakan dengan secepat mungkin, dengan kerusakan minimum pada kambium, dan diusahakan penyayatan pada scion jangan sampai berulang-ulang, f)Usahakan untuk menjaga bagian yang terluka, baik pada scion maupun pada rootstock agar tetap dalam keadaan lembab, g)bagian sambungan harus dijaga dari kekeringan sampai beberapa minggu setelah penyambungan. Keberhasilan teknik penyambungan sangat dipengaruhi oleh kompatibilitas antara dua jenis tanaman yang disambung. Pada praktikum ini, banyak kelompok yang mengalami kegagalan dalam penyambungan (grafting) tanaman puring sehingga batangnya menjadi kering dan tidak tumbuh tunas baru, tidak adanya pertumbuhan  ini kemungkinan di sebabakan beberapa faktor. Diantaranya disebabkan pada penyambungan antara batang bawah dan batang atas kurang sempurna masih ada celah sehingga supplai makanan dari batang bawah tidak bisa tersupplai dengan baik ke batang atas. Faktor yang lain kegagalan penyambungan dapat dikarenakan alat yang di gunakan untuk pemotongan tidak steril.
Pada hasil praktikum perlakuan yang baik adalah kelompok satu yaitu dengan semua bagian daun dihilangkan, hal tersebut menunjukkan metode penghilangan daun lebih efektif, karena dengan berkurangnya daun maka laju transpirasi lebih kecil sehingga persentase terjadinya pembusukan pada bagian yang disambung lebih kecil, sehingga terbentuknya lapisan nekrotik pada proses pertautan serta pemulihan luka oleh sel-sel meristematik yang diteruskan dengan terbentuknya jaringan atau pembuluh dari kambium dapat berlangsung dengan optimal. Pada penyambungan yang dilakukan dengan menyisakan setengah helai daun/organ lengkap  memiliki persentase keberhasilan lebih kecil, hal tersebut ditunjukkan dengan sebagian dari penyambungan mengalami kebusukan dikarenakan transpirasi lebih besar, sehingga persentase kebusukan lebih besar (Adit, 2012).
            Menurut hasil pengamatan, perlakuan yang baik adalah kelompok satu, yaitu dengan media kompos dan daun dihilangkan semua. Penghilangan daun lebih efektif daripada perlakuan lainnya dengan berkurangnya daun maka laju transpirasi lebih kecil sehingga persentase terjadinya pembusukan pada bagian yang disambung lebih kecil. Selain perngaruh penghilangan daun, yaitu teknik menyambungnya, mungkin pada kelompok tersebut menggunakan pisau yang steril dan pengikatan plastik pada batang sangat erat, sehingga tidak ada rongga. Jika terdapat rongga maka penyambungan antara batang bawah dan batang atas kurang sempurna masih ada celah sehingga supplai makanan dari batang bawah tidak bisa tersupplai dengan baik ke batang atas.


BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
1. Teknik sambung merupakan perkembangbiakan secara vegetatif
2. Pada teknik sambung dapat menghasilkan tumbuhan baru dengan varietas yang lebih unggul
3. Berkurangnya daun dapat mengakibatkan laju transpirasi lebih kecil sehingga persentase terjadinya pembusukan pada bagian yang disambung lebih kecil

5.2 Saran
1. Sebaiknya hati-hati terhadap alat yang digunakan
2. Sebaiknya pada saat membungkus dengan plastik harus rapat


DAFTAR PUSTAKA
                     
Adit, R.2012. Pembiakan Vegetatif dengan Cara Sanbung. http://rezer-adt.blogspot.com/2012/12/pembiakan-vegetatif-dengan-cara-sanbung.html. Diakses 1Desember 2012
Hidayat, S dan Sri, W. 2009. Seri tumbuhan obat berpotensi hias(2). Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta: Kanisius.

Sudarmono, A.  2009. Mengenal dan Merawat Tanaman Hias Ruangan. Yogyakarta: Kanisius.

Sukendro, A, dkk. 2010. Studi Pembiakan Vegetatif Intsia bijuga(Colebr.) O.K. Melalui
              Grafting. Silvikultur Tropika, 1(1) : 6-10.

Tambing, Y, dkk. 2008. Kompabilitas Batang Bawah Nangka Tahan Kering dengan Entris Nangka Asal Sulawesi Tengah dengan Cara Sambung Pucuk. Agroland, 15(2): 95-100.

Tambing,Y dan Hadid, A. 2008. Keberhasilan Pertautan Sambung Pucuk pada Mangga dengan Waktu Penyambungan dan Panjang Entris Berbeda. Agroland, 15(4): 296-301.

PEMBIAKAN VEGETATIF DENGAN CARA MENCANGKOK


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LABORATORIUM TEKNOLOGI BENIH

LAPORANPRAKTIKUM

NAMA                                      : JENI WIDYA R
NIM                                           :121510501018
GOL/KELOMPOK                 : KAMIS/I
ANGGOTA                              : 1. YENI MAYANG SARI   (121510501011)
                                                     2. IMRON ROSYIDI            (121510501022)
                                                     3. IRA SULISTIANA           (121510501024)
                                                     4. NOVITA F.M                    (121510501001)
                                                     5. MUHAMAD NUNALIF  (121510501178)
                                                     6. ADY SHOLIHIN               (121510501013)
                                                     7. JENI WIDYA R                (121510501018)
                                                     8. RIZKY AMRILLAH        (121510501015)
JUDUL ACARA                    : PEMBIAKAN VEGETATIF DENGAN CARA MENCANGKOK (AIR LAYERAGE)
TANGGAL PRAKTIKUM    : 7 MARET 2013
TANGGAL PENYERAHAN  : 11 APRIL  2013
ASISTEN                                  : 1. AKHMAD TAUFIQUL HAFIZH
                                                     2. LARAS SEKAR ARUM
                                                     3. MANUEL EDISON ANO
                                                     4. RAAF LUQMAN SYAH
                                                     5. DIYAH AYU SETYORINI
                                                     6. NOVITA FRIDA SAFATA
                                                     7. OKTAVIA RIZKI SETIYA R
                                                     8. MOCH GUFRON ARIF R
                                                     9. ALMANSYAH NUR SINATRYA


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tanaman merupakan salah satu organisme yang mampu melakukan pembiakan yang berguna untuk mempertahankan diri dan memperbanyak diri. Tanaman dapat melakukan pembiakan dengan cara vegetatif (tanpa perkawinan) dan dapat melakukannya derngan cara generatif yaitu melalui perkawinan. Pembiakan pada tanaman pada umumnya dapat terjadi secara alami maupun dengan bantuan manusia (terutama untuk tanaman-tanaman yang dibudidayakan dan diambil nilai ekonomi dan artistiknya). Pada pembiakan dengan cara vegetatif biasanya dan sebagian besar dilakukan oleh manusia agar diperoleh anakan yang sesuai dengan harapan.
Pembiakan tanaman secara vegetatif adalah pembiakan tanaman dengan menggunakan bagian organ dari tanaman itu sendiri, seperti sambung, stek, cangkok dan okulasi. Pembiakan secara generative adalah pembiakan tanaman dengan cara menanam benih yang dihasilkan oleh tumbuhan tersebut yang kemudian dijadikan sebagai bibit.
Pencangkokan (layerage) merupakan sebagian jenis pembiakan tanaman secara vegetatif. Tujuan dari pencangkokan adalah untuk mempercepat mendapatkan keturunan yang sama dengan induknya dan mempercepat hasil yang dihasilkan oleh tanaman yang dicangkok. Dasar dari pencangkokan adalah bila bagian tepi atau ujung batang terkulai atau bersentuhan dengan tanah diharapkan akan tumbuh akar vegetatif.
          Sebagian besar pertumbuhan hasil cangkokan lebih cepat dikarenakan cadangan makanan yang ada pada batang yang telah dicangkok sudah mencukupi untuk melakukan fotosintesis, sehingga pertumbuhan menjadi langsung berlanjut tanpa mengalami strees atau terminal. Jenis tanaman yang sering dicangkok adalah tanaman yang menghasilkan buah. Karena dengan mencangkok tanaman tersebut cepat menghasilkan buah. Beberapa teknik mencangkok pada praktikum ini akan dipelajari supaya kesalahan yang belum kita ketahui sebelumnya dalam pencangkokan segera bisa kita perbaiki dan tidak terulang kembali. Cara ini tergolong mudah dan sederhana, suatu cabang muda saat masih di pohon dan diusahakan dapat berakar, kemudian setelah berakar cabang dipotong dan ditanam sebagai suatu tanaman baru.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan mempelajari cara mencangkok, dan untuk mengetahui pertumbuhan akarcangkokan.
2. Untuk mengetahui pengaruh media cangkokan terhadap pembentukan sistem perakaran.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam kehidupan tanaman perlu pembiakan dalam rangka mempertahankan jenisnya dan peningkatan produksinya.ada dua cara pembiakan tanaman ialah secara generative atau reproduktif secara kawin dengan menggunakan benih biji yang memadai atau memenuhi persyratan sebagai bahan tanaman secara vegetative atau secara tak kawin dengan menggunakan organ vegetatif (Seputra, 1990). Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan secara konvensional dan nonkonvensional. Melalui perbanyakan ini dapat diperoleh tanaman yang seragam (Setiawati, 2007). Pembiakan vegetatif adalah suatu metode perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian tanaman itu sendiri (bagian-bagian vegetatif yakni akar, batang dan daun) tanpa melibatkan proses pembuahan sehingga sifat tanaman induk dapat dipertahankan dan diturunkan ke tanaman anakan Hartman dan Kester 1983 (dalam Sukendro, dkk, 2010).
Pembiakan vegetatif sangat diperlukan karena bibit hasil pengembangan secara vegetatif merupakan duplikat induknya sehingga mempunyai struktur genetik yang sama Na’iem, 2000 (dalam Adinugraha, 2007).Teknik perbanyakan vegetative dengan cara pelukaan atau pengeratan cabang pohon induk dan dibungkus media tanam untuk merangsang terbentuknya akar (Prastowo, 2006).
Mencangkok hanya dapat dilakukan pada tanaman berkambium atau tumbuhan dikotil. Syarat batang yang baik untuk dicangkok antara lain: batang lurus, batang tidak terlalu dan tidak terlalu muda,berkayu (Setyaningtyas, 2009). Perbanyakan dengan cara mencangkok bisanya dilakukan pada tanaman buah-buahan misalnya mangga, jambu,belimbing,dan rambutan(Abdullah, 2007).
Mencangkok tanama adalah salah satu cara teknik perbanyakan tanaman, selain itu kualitas buahnya sama dengan induknya dan juga pohonnya tidak terlalu tinggi. Tanaman yang bisa dicangkok antara lain: jambu, jambu air, mangga, sawo, dan lain-lain.  Keuntungan penggunaan teknik pembibitan secara vegetatif antara lain keturunan yang didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya, tidak memerlukan peralataan khusus, alat dan teknik yang tinggi kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar, produksi bibit tidak tergantung pada ketersediaan benih/musim buah, bias dibuat secara kontinyu dengan mudah sehingga dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang cukup banyak, meskipun akar yang dihasilkan dengan cara vegetatif pada umumnya relatif dangkal, kurang beraturan dan melebar, namun lama kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari biji, umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji. (Wilkins, 1991).


BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
           Kegiatan praktikum pembiakan tanaman pada acara 4, yaitu tentang pembiakan vegetatif dengan cara mencangkok (air layerage) yang dilaksanakan pada hari Kamis,7 Maret 2012, di laboratorium teknologi benih, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. 

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Tali rafia
2. Serabut kelapa
3. Plastik
4. Pupuk kompos
5. Pupuk kandang
6. Pisau tajam (cutter)
7. Timba

3.2.2 Bahan
1. Tanaman jeruk

3.3 Cara Kerja
1.    Menyiapkan bahan dan alat
2.    Memilih batang atau cabang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda
3.    Menyayat/menghilangkan kulit dan kambium pada batang atau tersebut sepanjang ±10 cm
4.     Memberi media pada bagian yang luka secukupnya dengan pupuk kandang dan kompos, kemudian ditutup dengan serabut kelapa dan plastik
5.    Menjaga kelembaban media dengan cara menyiram air


BAB 4. PENDAHULUAN

4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan
Perlakuan
Ulangan
Parameter
Jumlah Akar
P. Akar (cm)
Serabut
Kompos
1 (2)
8
4,5
2 (4)
0
0
3 (6)
5
2
Rata-rata
4
2,2
Kandang
1 (1)
9
2
2 (3)
1
0,8
3 (5)
0
0
Rata-rata
3
0,9
Plastik
Kompos
1 (2)
20
11
2 (4)
0
0
3 (6)
7
5
Rata-rata
9
5,5
Kandang
1 (1)
13
7
2 (3)
0
0
3 (5)
4
3
Rata-rata
6
3,3
4.1.2 Grafik Hasil Pengamatan
a. Grafik Jumlah Akar Hasil Cangkok

Media Cangkok
Jumlah Akar
Rata-Rata
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Serabut-Kompos
8
0
5
4
Serabut-Kandang
9
1
0
3
Plastik-Kompos
20
0
7
9
Plastik-Kandang
13
0
4
6

b. Grafik Panjang Akar Hasil Cangkok

Media Cangkok
Panjang Akar (cm)
Rata-Rata
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Serabut-Kompos
4,5
0
2
2,2
Serabut-Kandang
2
0,8
0
0,9
Plastik-Kompos
11
0
5
5,5
Plastik-Kandang
7
0
3
3,3

4.2 Pembahasan
Mencangkok adalah suatu teknik perbanyakan tanaman dengan cara merangsang timbulnya perakaran pada cabang pohon sehingga dapat ditanam sebagai tanaman baru. Mencangkok merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya dan cepat menghasilkan. Pencangkokan dilakukan dengan menyayat dan mengupas kulit sekeliling batang, lebar sayatan tergantung pada jenis tanaman yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan kambiumnya dapat dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat cukup kering, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkokan cepat berakar. Media tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan sistem perakaran yang bagus, batang dapat segera dipotong dan ditanam di lapang.
Pencangkokan dilakukan dengan menyayat dan mengupas kulit sekeliling batang, lebar sayatan tergantung pada jenis tanaman yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan kambiumnya dapat dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat cukup kering, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkokan cepat berakar. Media tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan sistem perakaran yang bagus.
Pembiakan dengan metode mencangkok biasanya dapat dilakukan pada tanaman-tanaman yang mempunyai sifat berkayu (berkambium). Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam prosesnya dan mampu menumbuhkan perakaran pada sekitar lapisan korteks tanaman. Namun hal ini dapat dipatahkan dengan adanya pencangkokan pada pohon pepaya yang diketahui bahwa pepaya merupakan tanaman dengan karakteristik tak berkayu. Meskipun mempunyai pohon yang agak keras, peapaya tidak meliliki kambium pada struktur susunan batangnya. Mencangkok dapat dilakukan pada waktu apapun tapi lebih baik dilakukan pada musim penghujan agar frekuensi untuk penyiraman secara manual dapat berkurang.
Memperbanyak tanaman dengan cara mencangkok mempunyai tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan perkembangan vegetatif lainnya. Karena pada proses percangkokan tanaman, akar dirangsang untuk tumbuh sebelum sebuah batang tanaman dipotong dan ditanam. Pencangkokan tanaman juga lebih aman untuk menjamin pertumbuhan anakan saat dipisah dari induknya, anakan sudah mempunyai akar. Organ akar yang tumbuh inilah yang mampu menjaga asupan nutrisi tanaman yang diperlukan sehingga anakan dapat tumbuh bertahan pada lingkungan terbuka. Adapun kekurangannya dari mencangkok yaitu tanaman hasil cangkokan hanya memiliki akar serabut, sehingga lebih mudah tumbang/roboh dibandingkan tanaman yang berasal dari biji dan memiliki kanopi yang lebih kecil dan produksi yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang dapat dihasilkan pohon induknya. Proses pencangkokan juga membutuhkan waktu lebih lama daripada perkembangan vegetatif lainnya. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pencangkokan diantaranya adalah :
1.      Batang yang di cangkok, batang harus dalm kondisi baik atau tidak cacat, berdiameter sesusai, batang cangkokan sebaiknya jangan diambil dari pohon induk yang terlalu tua, sebab biasanya dahan pohon induk kurang baik untuk dicangkok dan jangan diambil dari pohon yang terlalu muda sebab belum diketahui sifat-sifatnya.
2.      Faktor media, kondisi media meliputi ketersediaan unsur hara penunjang pertumbuhan akar,kelarutan zat hara, pH, tekstur, jumlah bahan organik
3.      Faktor  cahaya matahari, diperlukan tumbuhan untuk proses fotosintesis yang hasilnya ditransmisikan ke seluruh jaringan melalui floem.
4.      Fotosintesis, proses fotosintesis dapat pula mempengaruhi perkembangan akar
5.      Cuaca (Curah hujan)  dan kelembaban yang sesuai
6.      Teknik pencangkokan, pada batang yang dicangkok dihilangkan floemnya menyebabkan zat-zat hasil fotosintesis tidak dapat sampai ke perakaran tetapi terkumpul pada bagian atas cangkok, cadangan makanan tersebut digunakan tanaman untuk pertumbuhan akarnya
7.       Pemeliharaan cangkokan, pembiakan dengan cara cangkokan harus dijaga kelembabannya sepanjang waktu sampai dengan saat akan ditanam.
Didalam perlakuan pencangkokan tanaman menggunakan pembungkus atau pembalut yang digunakan sebagai media perakaran. Bahan pembungkus atau pembalut yang digunakan dalam praktikum yaitu serabut kelapa dan plastik. Pembalutan dengan serabut juga membuat temperatur cangkokan menjadi sesuai dan kelembapannya seimbang. Perlakuan tersebut dilakukan bertujuan untuk menahan media yang digunakan dalam cangkokan, mempertahankan kelembapan akar dan agar mendapatkan hasil dengan baik dengan waktu yang relatif lebih cepat juga untuk menghindari terkena cahaya langsung, sebab akar akan lebih cepat tumbuh dengan sehat dalam keadaan gelap dan lembab. Untuk cangkokan umumnya menggunakan bahan dari sabut kelapa atau karung goni untuk membungkus tanah sebagai media perakaran. Supaya cangkokan dapat berhasil dengan baik dengan waktu yang relatif cepat dan ekonomis, selain itu untuk bahan pembungkus media dapat pula dengan menggunakan plastik. Sedangkan dari media untuk mencangkok bisa menggunakan cocopeat atau serbuk sabut kelapa ataupun cacahan sabut kelapa. Dapat pula dugunakan campuran kompos/pupuk kandang dengan tanah. Dan untuk merangsang pertumbuhan akar harus memilki porus sehingga mudah ditembus akar-akar muda, ringan agar tidak membebani batang yang dicangkok, mampu menahan air sehingga media cukup lembap.
Berdasarkan hasil praktikum, adanya perbedaan antara perlakuan menggunakn media kompos dan pupuk kandang. Pada media kompos memiliki jumlah akar dan tinggi akar yang paling baik daripada media lainnya. Media kompos, terbuat dari daun-daun yang dikeringkan dan ditaburi EM4 guna pembentukan kompos. Kompos merupakan salah satu bahan organik yang sifatnya memiliki daya ikat besar terhadap air dan hara-hara yang diberikan, namun kompos sendiri mengandung sangat sedikit hara yangdibutuhkan tanaman, kompos juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah karena tanah menjadi remah dan mikroba – mikroba tanah yang bermanfaat dapat hidup lebih subur. 
Dalam pemilihan batang cangkokan diharuskan memilih batang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, karena batang cangkokan yang tua  dapat menyebabkan aliran unsur hara dari tanah ke daun kurang lancar akibat jaringan meristem yang sudah menebal, selain itu pemilihan batang yang terlalu muda juga dapat menyebabkan bunga tidak lebat. Sehingga pemilihan batang tersebut harus sesuai dengan kriteria pencangkokan agar tumbuhnya akar lebih cepat karena batang lebih produktif dan lebih mudah menumbuhkan akar karena mamiliki hormon alami yang baik. Selain itu pada pemilihan batang utama dalam pencangkokan juga tidak dianjurkan karena dapat mempengaruhi produktifitas tanaman induk yang dicangkok.


BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan

1. Pembiakan tanaman ada dua yaitu secara vegetatif dan generatif.
2. Pembungkus media berpengaruh terhadap pertumbuhan akar cangkokan.
    
5.2 Saran
1. Sebaiknya diperhatikan dalam pemilihan batang yang akan digunakan dalam pencangkokan.
     2. Sebaiknya lakukan metode dengan baik agar mendapatkan hasil yang baik
     3. Sebaiknya membungkus cangkokan harus rapat


DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M, dkk. 2007. Ipa Terpadu SMP dan MTs Jilid 3a. Jakarta : Esis

Prastowo, N.H, dkk. 2006. Teknik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah. Bogor: World Agroforestry Center (ICRAF) & Winrock Internasional.

Sukendro, A, dkk. 2010. Studi Pembiakan Vegetatif Intsia bijuga (Colebr.) O.K melalui Grafting. Silvikultur Tropika, 1(1):6-10

Setyaningtyas, Y. 2009. Cerdas sains Kelas 4-6 SD. Yogyakarta: Pustaka Widyatama

Tambing, Y dan Abdul, H. 2008. Keberhasilaan Pertautan Sambung Pucuk pada Mangga dengan Waktu Penyambungan dan Panjang Eutris Berbeda. Agroland, 15(4) : 296-301.

Tambing, Y, dkk. 2008. Kompatibilitas Batang Bawah Nangka Tanah Kering dengan Entris Nangka Asal Sulawesi Tengah dengan Cara Sambung Pucuk. Agroland, 15(2): 95-100